Selasa, 12 April 2011

unsur2 membangun manusia


Unsur-Unsur Yang Membangun Manusia ?

Usur-unsur yang membangun manusia ada beberapa faktor-faktor yang membangun manusia itu. Sebenernya ada banyak sekali unsur yang membangun manusia, namun dari sekian banyak unsur-unsur itu, dapat disederhanakan menjadi 2 klasifikasi yaitu : Unsur Jasmani dan Unsur Rohani.
Unsur jasmani adalah semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan fisik manusia, seperti makanan, minuman, dan lain-lain. Jika tidak dipenuhi maka akan berakibat buruk bagi manusia itu.
Unsur rohani adalah semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan rohani, atau hati manusia itu. Seperti agama au ketenangan hati , rasa aman, rasa bahagia dan lain-lain.

Manusia tidak dapat hidup tanpa kedua unsur tersebut dan juga manusia tidak bisa pula hidup dengan mengutamakan salah satu unsur dan mengabaikan yang lainya. Manusia butuh kedua unsur itu secara seimbang. Percuma jika seseorang mendapat semua kebutuhan jasmani namun, kebutuhan rohaninya terabaikan. Bagaimana perasaan kita bila makan makanan yang nikmat setiap hari, namun uang untuk membeli makanan itu


kita dapatkan dari hasil mencuri, maka kita tidak akan merasa kenyang karena di hantui oleh rasa takut akan dosa dan juga sebaliknya jika kita tidak makan dan minum, maka
hidup seseorang tidak akan jalan dengan semestinya. Jadi jika manusia hidup di dunia ini dengan menyeimbangkan kedua hal tersebut maka kita dapat menjalani hidup dengan tenang dan bahagia.

            Yang dimaksud dengan akibat manusia adalah suatu keadaan akibat ulah/perilaku manusia tersebut.

            Manusia dikaitkan dengan unsur kebudayaan karena manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan objek yang dilaksanakan manusia. Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan di nilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya  merupakan suatu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan stelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan.  Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya harus patuh kepada peraturan yang dibuat sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercangkup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.
            Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
1.     eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia
2.     Obyektivitas, yaitu prose dimana masyarakat menjadi realistis obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
3.     Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat di sergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari lagi masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat. 

Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat. Oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu sama lain.

Minggu, 20 Maret 2011

Kebudayaann Thailand


Kebudayaan Thailand

Lokasi
Negeri seluas 510.000 kilometer ini kira-kira seukuran dengan Perancis. Di sebelah barat dan utara, Thailand berbatasan dengan Myanmar, di timur laut dengan Laos, di timur dengan Kamboja, sedangkan di selatan dengan Malaysia (Peta).
Secara geografis, Thailand terbagi enam: perbukitan di utara di mana gajah-gajah bekerja di hutan dan udara musim dinginnya cukup baik untuk tanaman seperti strawberry dan peach; plateau luas di timur laut berbatasan dengan Sungai Mekong; dataran tengah yang sangat subur; daerah pantai di timur dengan resor-resor musim panas di atas hamparan pasir putih; pegunungan dan lembah di barat; serta daerah selatan yang sangat cantik.

Waktu
Jam di Thailand sama persis dengan Indonesia (GMT +7).

Iklim
Thailand memiliki iklim tropis yang ramah, dengan musim semi dari Maret sampai Mei, musim hujan - namun tetap banyak matahari - di Juni sampai September, dan musim dingin dari Oktober sampai Februari. Rata-rata suhu tahunan adalah 28 derajat C.

Sejarah
Kebudayaan Masa Perunggu diduga dimulai sejak 5600 tahun yang lalu di Thailand (Siam). Kemudian, datang berbagai imigran antara lain suku bangsa Mon, Khmer dan Thai. Salah satu kerajaan besar yang berpusat di Palembang, Sriwijaya, pernah berkuasa sampai ke negeri ini, dan banyak peninggalannya yang masih ada di Thailand. Bahkan, seni kerajinan di Palembang dengan Thailand banyak yang mirip.
Di awal tahun 1200, bangsa Thai mendirikan kerajaan kecil di Lanna, Phayao dan Sukhotai. Pada 1238, berdirilah kerajaan Thai yang merdeka penuh di Sukhothai ('Fajar Kebahagiaan'). Di tahun 1300, Sukhothai dikuasai oleh kerajaan Ayutthaya, sampai akhirnya direbut oleh Burma di tahun 1767. Jatuhnya Ayutthaya merupakan pukulan besar bagi bangsa Thai, namun tak lama kemudian Raja Taksin berhasil mengusir Burma dan mendirikan ibukotanya di Thon Buri. Di tahun 1782 Raja pertama dari Dinasti Chakri yang berkuasa sampai hari ini mendirikan ibukota baru di Bangkok.
Raja Mongkut (Rama IV) dan putranya, Raja Chulalongkorn (Rama V), sangat dihormati karena berhasil menyelamatkan Thailand dari penjajahan barat. Saat ini, Thailand merupakan negara monarki konstitusional, dan kini dipimpin oleh YM Raja Bhumibol Adulyadej.

Agama
Buddha Theravada adalah agama yang dianut lebih dari 90% penduduk Thai yang religius. Thailand juga sangat mendukung kebebasan beragama, dan terdapat umat Muslim, Kristen, Hindu dan Sikh yang bebas menganut agamanya di Thailand. Untuk alamat tempat ibadat, klik di sini.

Bahasa
Meskipun bahasa Thai hampir tak dapat dimengerti oleh wisatawan, namun bahasa Inggris dipahami luas di tempat-tempat utama seperti Bangkok, dan juga menjadi bahasa bisnis resmi di sana. Nama-nama jalan menggunakan bahasa Inggris di bawah bahasa Thai.
Satu keunikan yang kami temukan adalah adanya kemiripan dengan bahasa Indonesia yang berasal dari Sansekerta, seperti 'putra', 'putri', 'suami', 'istri', 'singa', 'anggur', dan sebagainya. Selain itu, biro penerjemahan juga banyak tersedia, baik untuk bahasa Thai, Inggris, dan Indonesia.

Formalitas
Warganegara Indonesia dengan tujuan liburan bebas visa selama 30 hari ke Thailand.

Keuangan
Mata uang Thailand adalah Baht, yang pada saat website ini dibuat setara dengan Rp 270. Bank-bank dan tempat penukaran mata uang banyak tersedia di Thailand. Hotel, toko dan restoran utama menerima kartu kredit internasional seperti Visa, Master Card, American Express dan Diners.

Transportasi
Bandara internasional Bangkok adalah Don Muang, yang terhubung dengan berbagai penerbangan dari seluruh penjuru dunia. Anda juga bisa melanjutkan perjalanan ke seluruh dunia melalui Don Muang. Selain itu, juga terdapat bandara internasional di Phuket, Hat Yai, dan Chiang Mai di utara Thailand.
Kereta api tersedia dari Singapura dan Kuala Lumpur. Di laut, banyak kapal berlayar menuju Thailand, misalnya cruise ship Star Virgo yang singgah di Phuket.

Transportasi di Bangkok
Transportasi umum di Bangkok antara lain BTS Skytrain, kereta bawah tanah, bis, taksi dan tuk-tuk. Anda harus menawar dahulu harganya sebelum naik Tuk-tuk ini.
Di sungai Chao Phraya, juga banyak terdapat taksi sungai atau perahu. Terdapat pula yang khusus untuk wisatawan, dilengkapi pemandu yang berbahasa Inggris.

PERINGATAN: Jika ada pengemudi taksi atau Tuk Tuk yang mengajak Anda ke suatu tempat tertentu, jangan mau. Tolaklah tegas (katakan "No, thanks"), kalau perlu ganti kendaraan. Untuk keadaan darurat, hubungi Tourist Police Center, Unicohouse Building, Soi Lang Suan, Phloen Chit Rd. Bangkok (Tel 6521721-6),

Alamat Penting:
Tourism Authority of Thailand
1600 New Phetchaburi Road, Makkasan, Ratchathewi , Bangkok 10400, THAILAND
Tel: 6602 250 5500 (120 automatic lines)
Fax: 6602 250 5511
http://www.tourismthailand.org
E-mail Address: center@tat.or.th
The Embassy of the Republic of Indonesia
600-602 Pecthburi Road
Ratchatewi, Bangkok 10400
Thailand
http://www.kbri-bangkok.com
Tel: (66-2) 2523135-40
Fax: (66-2) 2551267
Email: kukbkk@ksc11.th.com

sumber : http://www.wisatathailand.com/tentangthailand.htm

Rabu, 16 Februari 2011

Hubungan individu dengan masyarakat


Setiap individu akan saling berhubungan
Ibarat suatu benda yang tersusun atas beberapa bagian penyusunnya, mulai dari atom sebagai partikel penyusun terkecilnya, begitu pula hubungan antara individu, keluarga, dan masyarakat. Individu berasal dari kata latin, “individuum” yang artinya “tak terbagi”. Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Dan diantara orang-seorang tersebut pasti terdapat perbedaan/diferensiasi yang disebabkan oleh beberapa faktor. Timbulnya perbedaan tersebut bukan hanya pembawaan, tetapi melalui kaitan dengan dunia yang telah mempunyai sejarah dengan peradabannya. Setiap individu pasti mempunyai kepribadian istimewa. Jadi dapat disimpulkan bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya.
Kita semua tahu bahwa manusia selain merupakan makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Sehingga mereka tidak dapat hidup sendiri, melainkan harus saling mengadakan hubungan sosial antara satu individu dengan yang lainnya karena mereka saling membutuhkan. Beberapa individu yang berkumpul menjadi satu akan membentuk sebuah keluarga, yang merupakan unit/satuan masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anaknya. Keluarga inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat.
Adapun fungsi keluarga itu sendiri antara lain dapat dikelompokkan menjadi :
  1. Fungsi Biologis
Dengan fungsi ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan perkawinan bagi anak-anaknya. Kerena dengan perkawinan akan terjadi proses kelangsungan keturunan. Dan setiap manusia pada hakikatnya terdapat semacam tuntutan biologis bagi kelangsungan hidup melalui perkawinan.
  1. Fungsi Pemeliharaan
Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya dapat terlindung dari gangguan-gangguan sebagai berikut :
    1. Gangguan udara dengan berusaha menyediakan rumah
    2. Gangguan penyakit dengan berusaha menyediakan obat-obatan
    3. Gangguan bahaya dengan berusaha menyediakan senjata, pagar tembok dan lain-lain
  1. Fungsi Ekonomi
Keluarga berusaha menyelenggarakan kebutuhan pokok manusia, yaitu :
    1. Kebutuhan makan dan minum (Pangan)
    2. Kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya (Sandang)
    3. Kebutuhan tempat tinggal (Papan)
  1. Fungsi Keagamaan
Keluarga diwajibkan untuk menjalani dan mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam pelakunya sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


  1. Fungsi Sosial
Dengan fungsi ini keluarga berusaha untuk mempersiapkan anak-anaknya bekal-bekal selengkapnya dengan memperkenalkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-peranan yang diharapkan akan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa.
Beberapa keluarga yang berkumpul pada suatu daerah akan membentuk suatu masyarakat. Pengertian dari masyarakat itu sendiri adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya. Tatanan kehidupan dan norma-norma yang mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat, dapat digolongkan menjadi masyarakat sederhana dan masyarakat maju (masyarakat modern).
Pada masyarakat sederhana, pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja dalam bentuk lain tidak terungkap dengan jelas, sejalan dengan pola kehidupan dan pola perekonomian masyarakat sederhana atau belum sedemikian rupa seperti pada masyarakat maju. Dengan latar belakang seperti itu, jelas bahwa antara sang suami dengan sang istri, dan antara sesama istri, terjadi pembagian kerja dengan kesepakatan yang dapat diterima satu sama lain.
Pada masyarakat maju, memiliki aneka ragam kelompok social, atau lebih akrab dengan sebutan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai. Masyarakat maju dapat dibedakan menjadi :
  1. Masyarakat Non Industri
    1. Kelompok Primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif. Disebut juga “face to face group”, sebab para anggota kelompok sering berdialog. Maka dari itu, mereka saling mengenal lebih dekat dan lebih akrab.

    1. Kelompok Sekunder
Antara anggota kelompok sekunder terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena itu, sifat interaksi, pembagian kerja, diatur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional dan obyektif.
  1. Masyarakat Industri
Laju peryumbuhan industri-industri membawa konsekuensi memisahkan pekerja dengan majikan lebih nyata, majikan sebagai pemilik modal monopoli posisi-posisi tertentu, sehingga menimbulkan konflik. Sejalan dengan kompleksitas pembagia kerja, pekerjaanmenjadi tambah rumit dan terlalu khusus akibatnya terjadi konflik-konflik yang tak dapat dihindari, kaum pekerjaberkeinginan untuk memperbaiki kondisi kerja dan upah membentuk serikat-serikat kerja/serikat buruh. Namun akumulasi ketikdak puasan buruh menjadi bertambah, karena kaun industrial maengganti tenaga manusia oleh mesin-mesin. Hal ini berakibat membawa stagnasi mental para buruh, lambat laun menjadi luntur, kebanggan memiliki keterampilan dan spesialisasi semakin meningkat. Dengan demikin, pembagian kerja semakin timpang dan tidak adil. 

sumber : http://ekypradhana.wordpress.com/2010/11/07/isd2-hubungan-individu-keluarga-dan-masyarakat/

Senin, 17 Januari 2011

kegiatan bakti sosial

 

Kegiatan Bakti Sosial di Desa Jagabita, Parung Panjang, Bogor.


Dalam rangka memperingati ulang tahunnya, komunitas blogger Multiply Indonesia bekerjasama dengan Relawan Pelangi dan Komunitas Lebah menyelenggarakan kegiatan Bakti Sosial di kampung Kampung Pabuaran, Desa Jagabita, Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat pada tanggal 14 Februari 2009 lalu. Lokasi merupakan daerah terpencil yang berjarak sekitar 40 km dari Jakarta dan berada pada salah satu jalur bagi kendaraan-kendaraan super besar pengangkut bahan bangunan dari arah Bogor menuju ke Jakarta atau Merak. Kondisi ini yang menyebabkan kondisi jalan rusak parah dan berdebu, hingga membuat banyak warga menderita sesak nafas, asma dan penyakit paru-paru lain-nya seperti TBC. Ditambah lagi dengan kondisi sanitasi yang buruk, makin memperparah kondisi kesehatan warga masyarakat Desa Jagabita. Selain itu, problem minimnya pembangunan pada bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi mangakibatkan makin sulitnya masyarakat setempat beranjak menuju keadaan yang lebih baik. Kegiatan bakti sosial dilaksanakan dengan mengadakan layanan kesehatan. Sekitar 400 pasien telah ditangani (melalui penyebaran kupon) termasuk 30 Ibu Hamil beserta pemeriksaan gigi untuk anak-anak. Selain itu, atas bantuan dari berbagai pihak, bakti sosial juga membagikan berbagai makanan bernutrisi diantaranya adalah Serbuk Minuman Kedelai NATOYA bagi masyarakat Desa Jagabita.

sumber : http://amin-corporation.com/isi_kegiatan-bakti-sosial-di-desa-jagabita-parung-panjang-bogor_0_0.html

kisah anak jalanan



Ditulis oleh Andes Lukman & Ajeng Pinto   
Kamis, 09 Desember 2010 13:04 
Pengamen dan pengemis anak bukan pemandangan baru di Jakarta. Ada yang merasa kasihan dan prihatin, tak sedikit juga yang sinis dan tak peduli. Namun, tahukah Anda bagaimana kehidupan anak jalanan sesungguhnya? Andes Lukman dan Ajeng Pinto menelusurinya dengan terjun langsung di antara mereka. 

Siang itu daerah perempatan Jatinegara, Jakarta Timur, panas terik. Tampak seorang anak lelaki berusia 8 tahun tengah asyik menyanyi sambil menepuk-nepuk tangan di sisi sebuah mobil. Tak jelas syair lagu apa yang keluar dari mulutnya. Setelah bernyanyi beberapa bait, tangannya menadah pertanda meminta uang. Dengan muka memelas ia berkata, “Buat makan dan sekolah, Bu. Minta uang,” begitu katanya singkat.
Pemandangan seperti ini pasti se­ring Anda jumpai di sudut kota besar, terutama Jakarta. Tak peduli hujan atau panas, anak-anak ini tetap me­minta uang di jalanan. Timbul perta­nyaan, siapa mereka sebenarnya? Ke mana orang tua yang seharusnya bertanggung jawab atas anak-anak ini?

Penasaran dengan hal ini, beberapa waktu lalu kami menelusuri kehidupan pengemis dan pengamen anak-anak di sekitar Prumpung, Jakarta Timur. Untuk masuk ke dalam kelompok ini, Sekar harus melakukan pendekatan dengan keluarga mereka terlebih dulu. Tidak mudah, sebab anak-anak ini benar-benar tertutup dengan orang baru. Baru tanyakan soal tempat tinggal saja, anak-anak ini langsung mengernyitkan dahi. “Ada apa? Mau apa? Kenapa tanya-tanya?” cecar mereka.
Bagi anak-anak ini, tempat tinggal adalah suatu hal yang yang sangat dijaga kerahasiaannya. Pasalnya, bila sudah banyak yang mengetahui tempat tinggal, pastilah banyak orang yang akan berkunjung. “Orang” yang dimaksud di sini bukanlah orang biasa, melainkan institusi, lembaga pemerintah, hingga LSM, yang sering menjaring anak-anak dan orang tua mereka agar tak turun ke jalan lagi. Inilah yang ingin dihindari para pengamen dan pengemis jalanan.

Agar bisa berkenalan dan diterima, Sekar harus mencopot identitas wartawan. Hari pertama berkenalan dengan anak-anak ini, kami terkejut karena ternyata sebagian dari mereka mempunyai telepon selular atau ponsel. Ketika kami menanyakan nomor HP, spontan anak-anak itu menjawab, “Kosong delapan…kapan-kapan kita ke Dufan.” Begitu canda mereka sambil mencibir, menggambarkan keengganan menyebut nomor.

WAJIB MENGEMIS & MENGAMEN
Seperti yang mungkin sudah diduga banyak orang, para pengemis dan pengamen anak ini sudah melupakan pendidikan. Sebenarnya ada kesempatan untuk sekolah, tapi kemauan mereka yang sudah lenyap. Ketua LSM (lembaga swadaya masyarakat) SWARA, Endang Mintarja, yang bergiat untuk anak-anak jalanan di sekitar Jakarta Timur menyebut kondisi ini sebagai titik “aman” orang tua.
Maksudnya, orang tua memang sengaja membiarkan anak-anaknya mengemis dan mengamen di jalanan. “Kenapa dibiarkan? Karena mereka juga mengambil keuntungan dari situ,” katanya. Lalu mengenai pendidikan, beberapa tahun ke belakang Endang dan beberapa timnya memberikan ke­sempatan kepada anak-anak ini untuk sekolah. Masalah biaya SWARA akan berusaha membantu.

Namun kenyataannya tak banyak orang tua dan anak-anak yang tertarik dengan program ini. Mereka lebih senang di jalanan ketimbang harus duduk dan belajar di sekolah. Endang bahkan sudah mengalokasikan uang bagi anak-anak yang mau belajar. Mi­salnya, setiap hari Jumat dan Sabtu SWARA mengundang anak-anak jalanan untuk belajar di kantor SWARA di bilangan Prumpung. Bagi anak yang hadir akan diberikan uang sebesar Rp10 ribu. “Uang itu hitung-hitung sebagai ganti rugi mereka mengamen dan mengemis,” tuturnya.
Ternyata cara ini pun tidak lantas membuat anak-anak tertarik untuk belajar. Ketika Sekar mengikuti kegiatan belajar ini, mayoritas dari mereka malah asyik bersenda-gurau. Misalnya ketika salah seorang guru menjelaskan tentang fungsi RW (rukun warga), tiba-tiba seorang anak langsung berteriak, “Rukun Warga tidak ada fungsinya karena masyarakat selalu berkelahi.” Jawaban itu langsung diikuti gelak tawa teman-temannya.
Begitu pula ketika mereka disuruh membacakan Pancasila. Seorang anak dengan cepat langsung mengacungkan tangannya dan berdiri di antara anak-anak lainnya. “Pancasila! Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, mari mengamen sama-sama,” kata anak itu sambil tertawa terbahak-bahak. Tak ayal sang guru hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak-anak itu benar-benar liar dan susah diatur.

Dari 105 jumlah anak-anak jalanan di sekitar Prumpung, hanya setengahnya yang mau ikut belajar. Itu pun mereka harus dipaksa dan diming-imingi uang. Melalui program belajar inilah kami bisa berkenalan dengan F, gadis berusia 13 tahun. Di usia setua itu F masih duduk di bangku kelas 3 SD. Terkadang ia malu dengan teman-temannya yang lain karena badannya paling besar. “Harusnya kan saya sudah SMP,” katanya sedih.
Keinginan F untuk belajar tidak datang secara tiba-tiba. Sebelumnya beberapa kali ia ditawari oleh tim dari SWARA untuk mendaftar sekolah, tapi tidak mau. Ia memilih untuk te­rus mengamen di jalanan. F tinggal di sebuah rumah petak di sekitar Prumpung bersama kedua orang tua dan tiga adiknya. Ayah dan ibunya adalah pedagang asongan di sekitar Jatinegara. Barang yang dijual bermacam-macam, mulai dari rokok, minuman, atau apa saja. Yang penting laku dijual.

Pendapatan bersih rata-rata kedua orang tua F hanya Rp20 ribu sehari. Uang itu harus digunakan untuk membayar sewa rumah petak seharga Rp200 ribu per bulan. Rumah itu jauh dari kesan nyaman. Ruangan yang hanya berukuran 3 x 3 meter itu digunakan untuk tidur, masak, dan tempat berkumpul. Kamar mandinya berukuran 1 x 1 meter, namun pintu untuk menutup kamar mandi hanya papan tripleks yang disandarkan. Bila akan menggunakan kamar mandi, kayu tripleks harus diangkat untuk menutup pintu. Jika sewaktu-waktu angin kencang bertiup, papan tripleks bisa terjatuh. Itu belum seberapa. Bila salah satu anggota keluarga F sedang buang air besar, baunya akan “terbang” ke sekeliling ruangan.
Sebagian besar pendapatan kedua orang tua F dari berjualan di pinggir jalan habis untuk membayar kontrak­an ala kadarnya ini. Uang yang tersisa mereka pergunakan untuk makan sehari-hari. Tentu saja tidak cukup. Itulah alasan sang ibu menyuruh F mencari uang di jalanan. Caranya? Ya, terserah. Mau mengamen atau mengemis, sang ibu tidak akan keberatan.

Malah ketika F berusia 3 tahun, sang ibu sudah membawanya berjualan di pinggir jalan sambil digendong-gendong. Tak peduli debu, terik matahari, dan hujan. Ketika sudah berusia 7 tahun, barulah F disuruh mencari uang sendiri. Setiap hari anak ini bisa me­ngantongi uang Rp10 ribu sampai Rp20 ribu dari mengamen dan mengemis.
Untuk mengamen tak diperlukan keahlian apa pun. Cukup menyanyi dan bertepuk tangan, jadilah sebuah nyanyi­an. “Tak perlu merdu, yang pen­ting memelas,” kata F sambil tersenyum. Uang yang ia dapat sebagian diberikan kepada orang tua. Sedangkan sebagian lagi digunakan untuk membeli aksesori, seperti gelang dan kalung.

KORBAN KEKERASAN & PELECEHAN SEKSUAL
Kedua orang tua F tak pernah menghiraukan keberadaan anaknya. Yang mereka tahu, bila tidak pulang ke rumah berarti anak ini tidur di pinggir jalan. Pergaulan F pun terbilang luar biasa. Di usia semuda itu ia sudah sering berganti-ganti pacar. Bahkan meraba-raba badan pasangan menjadi hal yang biasa baginya.
Kami sempat melihat komunikasi anak ini dengan pacarnya. Bila sang pacar meledek F, anak ini tak segan-segan menempeleng kepala sang pacar. Begitu pula sebaliknya. Sang pacar sering menjambak rambut F. Menurut F, orang tuanya memang sering tak peduli pada anak. Ketidakpedulian mereka bahkan telah merenggut nyawa dua orang adiknya. Peristiwanya bermula ketika sang ibu sering membawa adik F yang nomor dua berjulalan di pinggir jalan. Alasannya klise, di rumah tidak ada yang menjaga sang anak.
Suatu hari dada si anak sesak dan sulit bernapas. Ketika dibawa ke rumah sakit, si anak dinyatakan mengalami gangguan pernapasan akut dan sulit disembuhkan. Penyebab utamanya adalah polusi karena terlalu sering mengisap debu dan asap knalpot. Nyawa si anak tak bisa tertolong dan F pun kehilangan satu adiknya.
Bukannya kapok, sang ibu kembali membawa anak berjualan di pinggir jalan. Kali ini yang dibawa adalah anak ketiganya. Hanya selang satu tahun, anak ini juga meninggal. Namun sang ibu selalu mengelak kalau anaknya itu meninggal karena gangguan pernapasan akibat polusi. Menurutnya, kedua anaknya itu meninggal akibat salah minum obat.

Tak jauh berbeda dengan kehidup­an F, Aris (bukan nama sebenarnya) juga harus mencari uang di jalanan. Padahal sang ayah, M masih mampu mencarikan biaya untuk anak laki-laki berusia 8 tahun ini. M adalah penjual kerupuk keliling di sekitar Jakarta Timur. Penghasilannya per hari kurang lebih Rp50 ribu. Artinya dalam sebulan M bisa mengantongi penghasilan kurang lebih Rp1,5 juta per bulan.
Kondisi keuangan yang cukup baik ini tidak lantas membuat Aris senang. Ia sama seperti anak-anak yang lain, wajib mengemis di jalanan. Bukan semata-mata karena butuh, tapi karena disuruh orang tua. Setiap hari, dari pagi sampai malam, ia harus mengemis di sekitar Jakarta Timur. Bila sekali saja tidak mencari uang, ayahnya akan memukuli Aris. Akibat terlalu sering dipukul oleh sang ayah, telinga sebelah kanannya tidak bisa berfungsi lagi. Sangat menyedihkan.

Sifat kasar sang ayah mulai muncul sejak Aris berusia 4 tahun. Saat itu M bercerai dengan istrinya gara-gara sang istri berselingkuh. Ia marah dan kesal. Semua emosi itu ia lampiaskan kepada Aris. Saat marah ia bisa berubah seperti orang kesurupan. Semua benda yang ada di sampingnya hancur berantakan.
Pernah suatu ketika M tengah makan nasi hangat. Aris yang tengah ba­ngun tidur tiba-tiba menangis. Ber­ulang kali M menyuruh anak itu untuk diam tapi tak bisa. Aris malah semakin kencang menangis. Kesal mendengar hal itu, M pun melempar piring beserta nasi hangat itu ke pipi Aris. Anak itu pun pingsan dan pipinya melepuh.
Saat M menceritakan peristiwa ini kepada Sekar, M menyuruh Aris menunjukkan bekas-bekas luka itu. Anehnya, M malah bangga karena telah berhasil membuat anak satu-satunya itu takut kepadanya. Sambil tertawa terbahak-bahak, M mempertontonkan kepada kami luka anaknya itu. Tak hanya kekerasan fisik, M juga sering mengajak anaknya ini ke tempat prostitusi di daerah Jatinegara.
Di tempat maksiat itu, Aris disuruh menunggu di luar, sementara M asyik berhubungan intim dengan wanita lain di dalam tenda. “Saya mau mengajar anak ini untuk berani,” begitu alasan M saat mengajak anaknya datang ke tempat prostitusi.

Tak jauh berbeda dengan cerita Aris, lelaki bernama R juga menjadi korban kekerasan. Bedanya R adalah korban kekerasan seksual. Semenjak dibuang oleh orang tuanya, R harus berjuang menyambung hidup di jalan. Semenjak usia 7 tahun ia sudah mengemis di jalan. Namun sayang, ada orang-orang usil kepada anak ini.

Setiap hari ia selalu menjadi pelampiasan nafsu laki-laki bejat. Ia juga beberapa kali pernah (maaf) disodomi. Kini R berperilaku seperti perempuan. Di usianya yang baru 13 tahun, R se­ring dipanggil banci oleh orang-orang sekitarnya. Kepalang basah, akhirnya R pun menganggap dirinya sebagai perempuan. Setiap hari ia selalu memakai celana yang berukuran pas dengan kaki. Rambutnya panjang sebahu. Tak lupa ia juga acap memakai bedak dan lipstik.

Begitulah penampilan R saat turun ke jalan untuk mengemis dan mengamen. Diam-diam seorang induk semang pelacur memperhatikan tingkah laku R ini. Suatu hari ia diculik dan dibawa ke satu tempat. Di ruangan berukuran 3 x 3 meter sudah menunggu seorang laki-laki berbadan tegap. R kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Laki-laki itu memaksa anak ini melayani dirinya.
Baru selesai laki-laki pertama, masuk lelaki kedua. Setelah itu masuk lagi yang ketiga, keempat, hingga ketujuh. R diancam. Kalau tidak mau melayani ketujuh lelaki itu, ia akan disiksa. Akhirnya anak ini pasrah dan menerima saja. Kondisi mengenaskan ini bukan cerita fiksi atau karangan. Inilah realita yang terjadi pada sebagian pengamen dan pengemis anak di ibu kota.

Rencananya, untuk mengurangi anak-anak jalanan seperti cerita di atas, para LSM akan bahu-membahu dengan pemerintah agar jumlah mereka berkurang. Targetnya, menurut Endang, pada tahun 2014 sudah tidak ada lagi anak-anak jalanan di ibu kota. “Semua orang harus mendukung program ini. Minimal sadarkan kepada mereka bahwa jalanan bukanlah dunia untuk anak-anak. Mereka berhak mendapat kehidupan yang lebih baik. Me­reka berhak bermain dan bukan disiksa atau dipaksa mencari uang di jalanan,” tutupnya tegas.
✿